Perjuangan Dengan
Gerilya
Jendral Soedirman berangkat dengan keadaan fisik sangat
lemah. Rombongannya terdiri atas dua ajudan dan satu dokter pribadi (Dr.
Suwondo), satu kompi pasukan pengawal, ditambah beberapa orang yang bukan
anggota staf pribadi Jendral Soedirman antara lain Mohammad Yunus dan Harsono
Tjo Kroaminoto. Ajudan yang pertama bersama dokter pribadi bertugas mengawasi
kondisi kesehatan Jendral Soedirman, sedangkan ajudan lainnya, Kapten Soepardjo
Rustaman, menjalin hubungan dengan markas komando di daerah-daerah yang akan
dilalui rombongan Jendral Soederman. Bertindak sebagai komando kompi pengawal
adalah Kapten Tjokropranolo.
Pada saat terakhir bergeriliya, kesehatan panglima besar
Jendral Soedirman semakin menurun sehingga beliau terpaksa harus terus ditandu
untuk meneruskan geriliya.
Setelah bergeriliya selama hampir tujuh bulan, akhirnya pada
10 Juli 1949 Panglima Besar Soedirman kembali ke Yogyakarta. Hal ini
dimungkinkan karena telah diperoleh kesepakatan mengenai pokok-pokok
pelaksanaan gencatan senjata dan kembalinya pemerintah RI ke Yogyakarta pada 22
Juni 1949 sesuai dengan hasil dari perjanjian Roem-Royen yang telah ditanda
tangani pada 7 Mei 1949.
Dalam perjalanan kembali ke Yogyakarta Panglima Besar
Jendral Soedirman beserta rombongan mendapat sambutan yang hangat dari rakyat
disetiap desa yang dilaluinya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar